Sabtu, 10 Agustus 2013

From Felix Siauw

Bang Ustad Felix Siauw, maaf kalo beberapa postnya yang di twitt diboyong keblog ini. Tapi ini InsyaAllah untuk tujuan baik. Mungkin sudah banyak yang baca beberapa twitt ini di akunnya bang ustad, tapi nggak sedikit juga temen-temen lain yang belum baca. Udah gitu ini twittnya benar-benar bermanfaat. Menggambarkan betapa besar kecintaan seorang ayah pada putrinya. Biar nggak penasaran langsung aja deh :D 

Allah menganugerahkanku satu putri alila namanya, padanya cintaku penuh seperti ayah lainnya. Kudidik dia sepenuh ilmuku dan kuajarkan padanya tentang Tuhanku, kubimbing dia dalam berdoa, kubacakan padanya ilmu yang kutahu. Baginya asupan hanya yang baik dan kucukupkan hanya yang terbaik, rusan harta tak kupikir walau raga dipanggang matahari terik. Takkan kubiarkan ia menangis karena dunia, kulindungi dia dari kejamnya manusia. Pernah kusampaikan "disekolah bertemanlah dengan perempuan saja" , tidak perlu bermain dengan lelaki karena engkau wanita. Kupesankan saat hari pertama ia berseragam putih-merah, "laporkan ke gurumu bila ada lelaki mengganggu dan salah". Kusampaikan berapi-api "bila ia tetap mengganggu dan gurumu acuh, tidak mengapa biar nanti abi bakar dia punya rumah!"
Haha.. mungkin bagimu berlebih dan tak mengerti, tak mengapa.. engkau akan paham saat engkau jadi ayah seorang putri. Hanya menatap binar bening matanya saja, engkau akan korbankan apapun yang engkau punya. Celotehnya mendadak jadi syair tatkala bepergian, dan setiap bentakan padanya jadi selaksa penyesalan. Bagimu pelukannya bahkan lebih engkau rindu dari pelukan ibunya, bagimu genggam tangannya bercanda riang itulah uang muka surga dan bagimu yang paling engkau takutkan dan khawatirkan adalah saat engkau harus melepas dirinya dengan pernikahan. Ketika engkau harus menyerahkannya kepada lelaki selain dirimu, pertanyaan besarmu "apakah dia akan memuliakan putrimu sepertimu?". Maka sesaat setelah akad terucap hakmu atasnya hilang, maka bahagia bagimu tinggal apa yang engkau kenang. Dia tetap putrimu namun bukan milikmu lagi, dia bukan lagi putri namun juga istri. Sekarang engkau mengerti mengapa ayah terbata mengeja akad nikah, menangis tertahan ketika semua serah terimamu menjadi sah. Sekarang akupun memahami mengapa baginda Rasulullah menjadikan ayah seorang putri menjadi wali nikah. Akupun mengerti mengapa tatkala lelaki menyukai wanita, maka yang pantas didatangi bukanlah wanitanya namun ayahnya. Ayahnya yang menghidupi, membimbing, mengajari, melindungi. Maka, dialah yang pantas menilai kepantasan calon suami. ayah yang memiliki hak bertanya, "apakah anak ini bisa menggantikanku memuliakan dan menghormati putriku sebagaimana aku?". Mohon dengarkan putriku, sungguh ayahmu lebih tahu. Bagimu ini adalah lembar baru kehidupanmu, bagiku kehidupan sampai lembar ini masih bagimu. Maka abi harus memastikan dirinya buatmu terhormat, imannya jadi jaminannya dan akhlaknya jadi penguat. Takkan pernah abi biarkan lelaki mendekatimu, yang tak punya nyali dan keyakinan mendekatiku. Hanya lelaki yang bisa menjaga kehormatannya, dia yang bisa menghormati dirimu buatmu mulia. Abi dianugerahi Allah amanah dan itu adalah engkau, takkan abi sia-siakan, takkan abi lalaikan, karena abi menyayangimu dan bila saat itu pasti menghampiri, abi berdoa itu lelaki semisal Nabi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar